Briket yang mudah hancur saat diangkat, dikemas, atau dikirim dapat menurunkan kualitas produk dan menambah kerugian selama proses produksi. Masalah ini biasanya berkaitan dengan kondisi bahan baku, komposisi perekat, tekanan cetak, hingga proses pengeringan. Karena itu, produsen perlu mengetahui cara mengurangi briket yang rapuh dengan mengevaluasi setiap tahap pembuatan, bukan hanya mengandalkan tekanan mesin.
1. Perhatikan Ukuran Serbuk Arang
Ukuran serbuk arang memengaruhi kemampuan partikel untuk menyatu saat proses pencetakan. Serbuk yang terlalu kasar dapat menghasilkan campuran yang kurang merata, sedangkan serbuk yang lebih halus cenderung membantu pembentukan adonan yang konsisten.
Gunakan ayakan untuk memisahkan partikel berukuran besar sebelum mencampurnya dengan perekat. Jaga ukuran serbuk tetap konsisten agar setiap bagian adonan memiliki karakteristik yang relatif serupa.
2. Sesuaikan Komposisi Perekat
Perekat membantu menyatukan partikel arang agar briket tidak mudah pecah. Produsen dapat menggunakan tepung tapioka sebagai salah satu pilihan, tetapi jumlahnya perlu disesuaikan dengan karakteristik serbuk arang dan kebutuhan produksi.
Jika perekat terlalu sedikit, partikel arang akan lebih sulit menyatu dan briket mudah pecah saat dipindahkan. Sebaliknya, terlalu banyak perekat dapat mengubah karakteristik adonan dan membuat proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama. Untuk menemukan campuran yang sesuai, coba beberapa komposisi dalam skala kecil, lalu bandingkan kekuatan briket setelah kering.
3. Atur Kelembapan Adonan
Adonan yang terlalu kering cenderung sulit menyatu ketika produsen mencetaknya. Namun, campuran yang terlalu basah dapat memperpanjang pengeringan dan membuat briket lebih rentan berubah bentuk selama penanganan.
Tambahkan air secara bertahap sambil mengaduk campuran hingga perekat menyebar merata. Periksa tekstur adonan sebelum mencetaknya agar campuran cukup menyatu, tidak menggumpal, dan tidak mengeluarkan air berlebihan.
4. Evaluasi Tekanan Saat Pencetakan
Tekanan mesin membantu memadatkan partikel arang dan membentuk briket. Jika tekanan tidak sesuai dengan karakteristik adonan atau kondisi mesin, briket bisa memiliki kepadatan yang tidak merata dan lebih mudah retak.
Periksa kondisi cetakan serta pengaturan mesin secara berkala. Jika briket sering pecah setelah keluar dari cetakan, uji perubahan tekanan secara bertahap sambil mempertahankan komposisi adonan agar produsen dapat mengenali penyebab masalah dengan lebih jelas.
5. Lakukan Pengeringan secara Bertahap
Pengeringan membantu mengurangi kadar air dan memperkuat bentuk briket setelah pencetakan. Jika produsen menumpuk briket yang masih basah atau menjemurnya tanpa sirkulasi udara yang cukup, kelembapan dapat bertahan lebih lama pada bagian tertentu.
Susun briket dengan jarak yang memadai agar udara dapat mengalir di antara setiap produk. Lindungi briket dari hujan dan kelembapan berlebih, lalu periksa kondisi beberapa sampel sebelum mengemas seluruh hasil produksi.
6. Uji Kekuatan Sebelum Pengemasan
Periksa kondisi briket setelah pengeringan selesai. Pegang beberapa sampel dan amati apakah permukaannya retak, bentuknya mudah berubah, atau kekuatannya berbeda satu sama lain.
Catat hasil pemeriksaan bersama informasi tentang bahan baku, komposisi perekat, tekanan cetak, dan lama pengeringan. Catatan tersebut membantu produsen menemukan pola masalah dan menentukan perubahan proses yang paling efektif.
Untuk memahami hubungan antara persiapan bahan, pencampuran, pencetakan, dan pengeringan secara menyeluruh, pelajari cara membuat briket dari tempurung kelapa. Proses yang runtut membantu produsen menilai setiap tahap sebagai bagian dari upaya menjaga mutu briket.
Kesimpulan
Cara mengurangi briket yang rapuh dimulai dengan menjaga ukuran serbuk arang, menyesuaikan perekat, mengontrol kelembapan, mengevaluasi tekanan cetak, dan melakukan pengeringan secara merata. Produsen juga perlu menguji hasil secara berkala agar dapat menemukan penyebab briket mudah hancur tanpa mengubah terlalu banyak faktor sekaligus.
Jika ingin memperdalam pengetahuan tentang proses produksi dan pengendalian mutu, Punca Training dapat menjadi salah satu referensi untuk mempelajari keterampilan yang relevan dengan pengembangan produksi briket.







