Membuat pakan sendiri memberi kesempatan kepada pembudidaya untuk mengatur komposisi bahan sesuai kebutuhan ikan. Namun, harga bahan yang terlihat murah belum tentu menghasilkan penghematan jika biaya pengolahan, tenaga kerja, dan pakan yang terbuang tidak ikut diperhitungkan.
Perhitungan biaya perlu mencakup seluruh pengeluaran sampai pelet siap digunakan. Dengan begitu, pembudidaya bisa membandingkan biaya pakan mandiri dengan harga pelet komersial secara lebih objektif.
Langkah Menghitung Biaya Produksi Pakan Mandiri
1. Hitung Pengeluaran Bahan Baku
Catat setiap bahan yang masuk ke dalam formula, mulai dari tepung ikan, dedak, bungkil kedelai, hingga bahan pengikat dan premiks. Kalikan jumlah setiap bahan dengan harga per kilogram agar biaya campuran terlihat jelas.
Sebagai contoh, produksi 100 kg pakan menggunakan bahan dengan total biaya Rp980.000. Angka ini hanya ilustrasi; sesuaikan dengan resep dan harga dari pemasok setempat.
2. Masukkan Biaya Pengolahan
Bahan yang sudah dibeli masih perlu digiling, dicampur, dicetak, dan dikeringkan. Karena itu, tambahkan biaya listrik atau bahan bakar, air, serta upah pekerja yang terlibat selama produksi.
Catat pemakaian energi ketika mesin beroperasi, bukan berdasarkan perkiraan bulanan semata. Cara ini membantu pembudidaya mengetahui pengeluaran yang benar-benar berkaitan dengan pembuatan satu kelompok pakan.
3. Hitung Kemasan dan Perawatan Mesin
Pelet yang sudah jadi memerlukan wadah atau karung untuk penyimpanan. Masukkan biaya kemasan, label, serta bahan pendukung lain yang digunakan sebelum pakan masuk ke gudang.
Selain itu, sisihkan biaya untuk servis dan penggantian komponen mesin. Walaupun pengeluaran tersebut tidak selalu muncul setiap hari, perawatan tetap menjadi bagian dari biaya produksi karena mesin mengalami keausan selama pemakaian.
4. Buat Simulasi Biaya per Kilogram
Misalnya, biaya bahan baku untuk 100 kg pakan mencapai Rp980.000. Biaya energi dan tenaga kerja berjumlah Rp150.000, sedangkan kemasan serta alokasi perawatan mesin mencapai Rp70.000.
Total pengeluaran menjadi Rp1.200.000 untuk satu kelompok produksi. Jika seluruh 100 kg pakan layak digunakan, biaya produksinya mencapai Rp12.000 per kilogram.
Namun, apabila hanya 96 kg pelet yang memenuhi standar setelah pengeringan dan penyortiran, hitung biaya berdasarkan hasil tersebut. Biaya efektifnya menjadi sekitar Rp12.500 per kilogram, sehingga hasil produksi nyata lebih penting daripada berat adonan sebelum diproses.
5. Bandingkan dengan Pakan Komersial
Hitung efisiensi biaya pakan buatan sendiri dengan membandingkan total biaya produksinya terhadap harga pelet komersial yang memiliki kandungan nutrisi setara. Jangan hanya melihat perbedaan harga karena kadar protein, daya cerna, ketahanan pelet, dan pertumbuhan ikan juga memengaruhi efisiensi biaya.
Catat jumlah pakan yang dikonsumsi dan pertambahan bobot ikan untuk mengevaluasi hasilnya. Jika pakan mandiri lebih murah tetapi pertumbuhan melambat, penghematan tersebut belum tentu menguntungkan.
6. Gunakan Mesin Sesuai Kapasitas Produksi
Peralatan yang sesuai membantu pembudidaya menjaga ukuran pelet dan mengatur waktu pengerjaan. Pelajari pilihan mesin buat pelet ikan dengan mempertimbangkan kapasitas, kebutuhan energi, serta biaya perawatan.
Informasi peralatan pengolahan lainnya tersedia melalui situs Rumah Mesin. Sebelum membeli mesin, hitung perkiraan volume produksi agar kapasitas alat tidak terlalu besar dibandingkan kebutuhan harian.
7. Evaluasi Pengeluaran Setiap Produksi
Buat catatan berisi harga bahan, pemakaian energi, berat pelet layak pakai, dan biaya tambahan. Perbarui perhitungan setiap kali harga bahan berubah atau hasil produksi mengalami penurunan.
Kesimpulan
Cara menghitung biaya produksi pakan mandiri dimulai dari pencatatan bahan baku hingga biaya pengolahan dan hasil pelet yang benar-benar layak digunakan. Dengan menghitung biaya per kilogram serta membandingkan mutu dan pertumbuhan ikan, pembudidaya dapat menilai apakah produksi sendiri memberikan penghematan nyata.





